A. Pendahuluan
Al-Qur’an adalah kitab suci yang diyakini kebenarannya berasal dari Allah.
Sebagai sebuah kitab maka al-Qur’an mengandung berbagai macam bentuk
komunikasi. Bila ditinjau dari kacamata keilmuan keislaman, al-Qur’an berisi
kabar gembira (basyiran) dan peringatan (nadhiran). Namun bila ditinjau dari
ilmu komunikasi ayat-ayat al-Qur’an dapat dikelompokkan kedalam beberapa bentuk
komunikasi, diantaranya, komunikasi interpribadi, antarpribadi, antarbudaya,
kelompok dll. Di sini kami akan sedikit membahas ayat-ayat al-Qur’an yang
terdapat dalam juz 29 dan 30 dengan perspektif ilmu komunikasi.
Juz
29 terdiri dari 11 surat yaitu : surat al-Mulk, al-Qalam, al-Haaqah,
al-Ma’arij, Nuh, al-Jin, al-Muzammil, al-Muddatstisir, al-Qiyamah, al-Insan,
dan al-Mursalat. Isi kandungan masing-masing surat berbeda-beda namun secara
umum adalah tentang kisah para Nabi Musa, Nuh, dan Muhammad, Janji kepada orang
mu’min dan azab kepada orang-orang kafir, cerita tentang jin, dan hari kiamat.
Juz
30 terdiri dari 37 surat dan termasuk juz yang paling banyak suratnya dalam
al-Qur’an disebut juga Juz ‘Amma karena dimulai dengan kata ‘amma yatasaa alun,
terdiri dari surat : An-Naba, an-Nazi’at, ‘Abasa, at-Takwir, al-Infithar,
al-Muthaffifin, al-Insyiqaq, al-Buruj, ath-Thariq, al-A’la, al-Ghasyiyah,
al-Fajr, al-Balad, asy-Syams, al-Lail, adh-dhuha, Alam Nasyrah, at-Tiin,
al-‘Alaq, al-Qadr, al-Bayyinah, al-Zalzalah, al-‘Adiyat, al-Qari’ah,
at-Takatsur, al-‘Ashr, al-Humazah, al-Fiil, al-Quraisy, al-Ma’un, al-Kautsar,
al-Kafirun, an-Nashr, al-Lahab, al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Naas, isi pokok
dari juz 30 adalah peristiwa hari berbangkit (kiamat), dalil keesaan, perintah
berdakwah, perintah membaca, catatan amal manusia, kisah bangsa zaman dahulu.
B. Jenis-Jenis Komunikasi
dalam juz 29 dan 30
Pada Makalah
ini akan dibahas jenis-jenis komunikasi dari ayat-ayat al-Qur’an yang terdapat
pada Juz 29 dan 30 dengan perspektif pohon komunikasi yang meliputi komunikasi
non verbal, komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal, komunikasi
antarbudaya dll.
1. Komunikasi Nonverbal
Komunikasi
non-verbal adalah komunikasi yang dilakukan dengan gerakan tubuh, gerakan
wajah, dan gerakan mata yang memberikan makna komunikan. Komunikasi non-verbal
ini bisa menguatkan pesan yang disampaikan melalui komunikasi verbal.
Kadangkala komunikasi non-verbal lebih ampuh dan lebih dipercayai dibandingkan
komunikasi verbal.
“Dan
sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau
mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan
menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan
diri dengan sangat. (Nuh : 7)
Dia (Muhammad) bermuka masam
dan berpaling, (1) karena telah datang seorang buta kepadanya (2) Tahukah kamu
barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), (3) (Surat ‘Abasa: 1-3)
Bahkan manusia itu menjadi
saksi atas dirinya sendiri (14) meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.
(15) (Q.S. al-Qiyamah:14-15)
2. Komunikasi Intrapersonal
Sebagai mana dalam Q.S Al
Ghasyiyah : 17 – 20, yang arti nya:
“Maka apakah mereka tidak
memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,
Dan langit, bagaimana
ia ditinggikan?
Dan gunung-gunung bagaimana
ia ditegakkan?
Dan bumi bagaimana ia
dihamparkan? “(Q.S. Al-Ghasyiyah : 17 – 20)
Ayat di atas
apabila ditinjau dari perspektif psikologi komunikasi termasuk kepada
komunikasi intrapersonal dengan proses berpikir. Berpikir melibatkan semua
proses sensasi, persepsi dan memori. Sensasi adalah proses menangkap stimuli
yang datang dari luar (ekternal) maupun dari dalam (internal), sedangkan
persepsi adalah proses memberi makna pada sensasi sehingga memperoleh
pengetahuan baru dengan menyimpulkan atau menafsirkan pesan, dan memori adalah
menyimpan dan memanggil kembali informasi yang pernah diperoleh.[1]
Dalam komunikasi intrapersonal berpikir dilakukan untuk memahami realitas dalam
rangka mengambil keputusan (decision making), memecahkan persoalan (problem
solving) dan menghasilkan yang baru (creativity).
Pada
surat al-Ghasyiyah ayat 17-20 diatas Allah memerintahkan manusia yang berakal
untuk memperhatikan dan memikirkan semua ciptaan-Nya. Pertama perhatikan unta.
Unta adalah binatang yang bertubuh besar, berkekuatan prima serta memiliki
ketahanan yang tinggi dalam menanggung lapar dan dahaga, dan semua sifat ini
tidak terdapat pada hewan yang lain. Kemudian ketika mengangkat pandangan
ke atas, lihat langit dan jika memalingkan pandangan ke kiri dan ke kanan
tampak disekeliling kita gunung-gunung. Dan jika kita meluruskan pandangan atau
menundukkannya akan terlihat bumi yang terhampar.
“Adapun
manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya
kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.
Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata:
“Tuhanku menghinakanku”. Q.S. Al-Fajr : 15-16)
Ayat
ini termasuk komunikasi intrapersonal dalam proses berpikir dengan menggunakan
persepsi. Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau
hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan
pesan.
Dalam ayat ini seseorang mengambil kesimpulan setelah memperhatikan stimulus
yang datang sebelumnya yaitu, jika Allah memberi kenikmatan dan melapangkan
rizki kepadanya, ia menyangka bahwa karunia itu merupakan kehormatan Allah
kepadanya. Kemudian timbul anggapan dalam hatinya bahwa Allah sama sekali tidak
akan menghukumnya sekalipun ia berbuat sekehendak hatinya. Namun jika ia
disempitkan rizkinya dan merasa rizkinya tidak kunjung datang, ia beranggapan
bahwa hal ini merupakan penghinaan Allah kepadanya.
Menurut para mufassir persepsi manusia tadi adalah persepsi yang salah sebab
pemberian nikmat terhadap seseorang di dunia pada hakikatnya tidak menunjukkan
bahwa ia berhak sepenuhnya atas hal itu.[2]
Mengenai persepsi juga terdapat pada surat al-Balad ayat 5-7
Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang
berkuasa atasnya?
Dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”.
Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya? (Q.S.
Al-Balad :5-7)
Dan pada surat al-Mulk ayat 19-22
Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan
mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara)
selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu. (19)
Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain
daripada Allah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah
dalam (keadaan) tertipu.(20) Atau siapakah dia yang memberi kamu rezki jika
Allah menahan rezki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan
menjauhkan diri?(21) Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya
itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas
jalan yang lurus? (22)
3. Komunikasi Interpersonal
“Sesungguhnya
Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai
pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh
akan memetik (hasil)nya di pagi hari, (17) dan mereka tidak menyisihkan (hak
fakir miskin),(18) lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari
Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, (19) maka jadilah kebun itu hitam seperti
malam yang gelap gulita, (20) lalu mereka panggil memanggil di pagi hari: (21)
“Pergilah diwaktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya”. (22)
Maka pergilah mereka saling berbisik-bisik. (23) “Pada hari ini janganlah ada
seorang miskinpun masuk ke dalam kebunmu”. (24) Dan berangkatlah mereka di pagi
hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka (menolongnya).
(25) Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: “Sesungguhnya kita
benar-benar orang-orang yang sesat (jalan) (26)
bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)”. (27) Berkatalah seorang
yang paling baik pikirannya di antara mereka: “Bukankah aku telah mengatakan
kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu) ?” (28) Mereka mengucapkan:
“Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”. (29)
Lalu sebahagian mereka menghadapi sebahagian yang lain seraya cela mencela.
(30) Mereka berkata: “Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah
orang-orang yang melampaui batas”. (31) Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan
ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya
kita mengharapkan ampunan dati Tuhan kita. (32)
Surat
al-Qalam ayat 17-32 di atas merupakan komunikasi interpersonal dalam bentuk
dialog atau percakapan. Dalam asbabul wurudnya ayat ini menceritakan komunikasi
terjadi diantara orang-orang Mekkah yang memiliki kebun warisan orang tuanya
yang shaleh. Orang tuanya sering memberikan untuk orang-orang miskin bagian
yang tercecer dari hasil kebun. Setelah orang shaleh itu meninggal anak-anaknya
tidak lagi melakukan hal yang sama. Mereka bersumpah untuk memetik buah kebun
di waktu pagi agar tidak diketahui oleh orang miskin. Maka Allah pun membalas
mereka dengan apa yang pantas bagi mereka, membakar kebun mereka dan tidak
menyisakan sedikit pun.
Dalam
komunikasi interpesonal ada yang disebut dengan konsep diri yaitu pandangan dan
perasaan kita tentang diri kita. Konsep diri memiliki dua komponen : kompnen
kognitif dan komponen afektif. Komponen kognitif disebut citra diri (self
image) dan komponen afektif disebut harga diri (self esteem). Konsep diri
merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi interpersonal, karena
setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya.
Komunikasi interpesonal dalam al-Qur’an digambarkan bukan hanya pada kehidupan
dunia saat sekarang bahkan juga pada kehidupan di akhirat kelak seperti yang
terdapat pada surat al-Muddatstsir ayat 38-47 yang berbunyi
“Tiap-tiap
diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, (38) kecuali golongan
kanan, (39) berada di dalam syurga, mereka tanya menanya, (40) tentang
(keadaan) orang-orang yang berdosa, (41) “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam
Saqar (neraka)?” (42) Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang
yang mengerjakan shalat, (43) dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin,
(44) dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang
membicarakannya, (45) dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, (46) hingga
datang kepada kami kematian”. (47)
4. Komunikasi Kelompok
Hampir-hampir (neraka) itu
terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan
(orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka:
“Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?”
(8)
Mereka menjawab: “Benar ada”, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang
pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: “Allah tidak
menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang
besar”.(9)
Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan
(peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang
menyala-nyala”. (Q.S. al-Mulk 8-10)
Komunikasi yang terdapat pada
Surat al-Mulk ayat 8-10 di atas adalah komunikasi kelompok group to group,
yaitu komunikasi antara para penjaga neraka dengan orang-orang yang dimasukkan
kedalamnya.
Sedangkan komunikasi pada surat Nuh 1-3 adalah komunikasi kelompok person to
group yaitu komunikasi / seruan Nabi Nuh kepada kaumnya untuk menyembah Allah
dan mengikuti seruannya
Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang
menjelaskan kepada kamu, (2) (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah
kepada-Nya dan ta’atlah kepadaku, (3)
Dan pada surat An-Nazi’at ayat 42
adalah komunikasi interpersonal group to person yaitu komunikasi orang kafir
kepada Nabi Muhammad yang berbunyi :
(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan,
kapankah terjadinya? (Q.S. An-Nazi’at : 42)
5. Komunikasi Antar Budaya
Komunikasi
antar budaya dalam al-Qur’an biasanya terdapat pada kisah-kisah para Nabi
dimana terjadi perbedaan budaya antara orang yang beriman dan orang yang kafir.
Kisah yang terdapat dalam Juz 29 dan 30 ini diantaranya adalah kisah Nabi Nuh,
Nabi Musa dan Nabi Shaleh yaitu :
Kisah Nabi Nuh terdapat dalam surat Nuh ayat 8-10
Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara
terang-terangan [1518], (8)
kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan
dan dengan diam-diam [1519], (9)
maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu,
sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, (10) (Q.S. Nuh: 8-10)
Kisah nabi Musa MUSA terdapat
dalam surat An-Nazi’at ayat 18-24
“Dan
katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri
(dari kesesatan)”. (18) Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya
kamu takut kepada-Nya?” (19) Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mu’jizat yang
besar. (20) Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. (21) Kemudian dia
berpaling seraya berusaha menantang (Musa). (22) Maka dia mengumpulkan
(pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (23) (Seraya)
berkata:”Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. (24)
Dan Kisah Nabi Shaleh terdapat
pada surat Asy-Syams ayat 13-14
Lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina
Allah dan minumannya”. (13) Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta
itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah
menyama-ratakan mereka (dengan tanah), (14)
Sedangkan
pada surat al-Muthaffifin ayat 29- 32 berisikan sikap orang-orang kafir ketika
bertemu dengan orang-orang mukmin yang berbunyi :
“Sesungguhnya orang-orang yang
berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. (29) Dan
apabila orang-orang yang beriman berlalu di hadapan mereka, mereka saling
mengedip-ngedipkan matanya. (30)
Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka
kembali dengan gembira. (31) Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min,
mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang
sesat”, (32)
6. Etika Komunikasi
Allah berfirman dalam Alqur’an
yang artinya :
“Dan bersabarlah terhadap apa yang
mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (Q.S.
al-Muzammil :10)
7. Komunikasi Massa
Komunikasi
massa adalah komunikasi dengan menggunakan media massa seperti koran, televisi,
radio, film, buku dan lain sebainya. Dalam al-Qur’an banyak disebutkan buku
sebagai komunikasi massa bahkan Allah mengajarkan manusia dengan perantaraan
Qalam (pena) yang tentunya hasilnya berupa buku. Diceritakan juga bentuk buku
(kitab) catatan amal manusia yang di hari kiamat akan dibacanya kembali, kitab
sijjin untuk orang yang durhaka dan kitab ‘illiyin untuk orang yang beriman
dimana bertindak sebagai wartawannya adalah malaikat pencatan amal Raqib dan
Atid.
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, (1) Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. (2) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha
Pemurah, (3) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam [1590], (4) Dia
mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (5) (Q.S. al-‘Alaq:
1-5)
Nun [1490], demi kalam dan apa
yang mereka tulis, (Q.S. al-Qalam: 1)
“Padahal
sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu),
(10) yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), (11)
mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (12)
(Q.S. al-Muthaffifin:10-12)
Sekali-kali jangan curang,
karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin [1563]. (7)
Tahukah kamu apakah sijjin itu? (8) (Ialah) kitab yang bertulis. (9) (Q.S. al-Muthaffifin:7-8)
Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu
(tersimpan) dalam ‘Illiyyin (18) Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? (19)
(Yaitu) kitab yang bertulis, (20) (Q.S. al-Muthaffifin:18-20)
7. KOMUNIKASI ALLAH
Dalam al-Qur’an terdapat banyak
bentuk komunikasi Allah, baik yang berbentuk, perintah, larangan, anjuran, atau
ajakan. Dalam beberapa ayat Allah membuat ungkapan untuk menarik perhatian
orang yang akan diajaknya berkomunikasi seperti misalnya sumpah Allah dengan
fenomena-fenomena alam.
- Komunikasi Allah Kepada Malaikat
(Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.
(30) Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. (31)
Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. (32)
Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. (33)
(Q.S. (al-Haqqah : 30-33)
Sesungguhnya Kami telah
mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan
sebelum datang kepadanya azab yang pedih”, (Q.S.
Nuh :1)
- Komunikasi Allah Kepada Nabi
Muhammad
Hai orang yang berselimut (Muhammad), (1) bangunlah (untuk sembahyang) di
malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),(2) (Q.S. al-Muzammil :1-2)
Hai orang yang berkemul
(berselimut), (1) bangunlah, lalu berilah peringatan! (2) (Q.S. al-Mudatsir : 1-2)
- Komunikasi Allah Kepada Nabi
Musa
Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Thuwa; (16)
“Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, (17)
(Q.S. An-Nazi’at 16-17)
- Komuniaksi Allah Kepada Jiwa Yg
Tenang
Hai jiwa yang tenang. (27) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas
lagi diridhai-Nya. (28) Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, (29)
masuklah ke dalam syurga-Ku. (30) (Q.S. al-Fajr : 27-30)
- Komunikasi dengan simbol
Allah ketika menceritakan sebuah peristiwa senantiasa memulai firmannya dengan
menyebutkan berbagai fenomena alamiah seperti bersumpah dengan benda-benda :
bulan, matahari, bintang-bintang, bumi, buah tin, dan buah zaitun, dengan waktu
: massa, malam, subuh, fajar, dan siang, dengan tempat seperti gunung Sinai,
dan kota Mekkah, semuanya sebagai penarik perhatian dan juga untuk dipikirkan
oleh orang-orang yang berakal seperti dalam surat al-Fajr :1-5
Demi fajar, (1) dan malam yang sepuluh, (2) dan yang genap dan yang ganjil,
(3) dan malam bila berlalu. (4) Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang
dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal. (5) (Q.S. al-Fajr ;1-5)